Top Selfie, Rajanya Selfie

Setiap mendengar kata Top Selfie, saya selalu teringat iklan kopi yang dibawakan oleh Bang Iwan Fals. Habis, namanya mirip-mirip sih. Seringkali, saya mengucapkan Top Selfie ala-ala iklan tersebut. Karena sering kepikiran iklan tersebut setiap mendengar Top Selfie, maka jadilah judul tulisan ini menjadi seperti di atas. ๐Ÿ˜€

Top Selfie merupakan jenama lain dari Hutan Pinus Kragilan yang ada di Magelang, desa Kragilan. Satu jam perjalanan dari pusat kota Magelang, dan lebih lama jika berangkat dari Yogyakarta, yaitu kurang lebih dua jam. Rute menuju Hutan Pinus Kragilan cukup mudah dituju. Ikuti saja jalan menuju Ketep Pass, jika sudah sampai di sana, itu berarti kita sudah setengah jalan menuju Top Selfie. Setengah jalannya lagi dapat dilalui mengikuti jalan pedesaan satu-satunya yang menuju ke Top Selfie.

IMG_2564.jpg
Bonus sunrise selama perjalanan

Dan, hei! Di zaman yang serba digital ini, masih ada yang belum bisa memanfaatkan teknologi peta digital menggunakan GPS untuk mencari tempat tujuan?

[googlemaps https://www.google.com/maps/embed?pb=!1m18!1m12!1m3!1d3956.038612530175!2d110.38373712022765!3d-7.460980471614329!2m3!1f0!2f0!3f0!3m2!1i1024!2i768!4f13.1!3m3!1m2!1s0x2e7a7cd684129269%3A0x876c62c2c01cd747!2sTop+Selfie+Pinusan!5e0!3m2!1sid!2sid!4v1498475747220&w=100%&h=300]

Seorang traveler pernah melontarkan kutipan yang isinya kurang lebih begini:

Jangan pernah menganggap sebuah tempat wisata tidak ada apa-apanya, atau biasa saja. Setiap tempat wisata pasti ada sisi istimewanya.

Saya masih ingat, kali pertama saya ke Top Selfie, setahun yang lalu (Mei 2016) seselasainya acara Waisak di Borobudur.

Kondisi Top Selfie waktu itu benar-benar biasa saja. Suasananya tak lebih dari beberapa hutan pinus yang pernah saya kunjungi di Yogyakarta. Sama sekali tak menggugah hati untuk mengksplor lingkungan sekitar atau sekadar mengambil foto seadanya. Atau, memang saya yang belum pandai mencari sisi istimewa tempa wisata tersebut ya?

Dengan kondisi seperti di atas, maka jadilah saya menghabiskan waktu hanya dengan tiduran di mobil. ๐Ÿ˜

Inovasi itu Penting, Tak Terkecuali tempat Wisata

Pengelola tempat wisata umumnya tidak tinggal diam hanya dengan memanfaatkan pemandangan alam berdasarkan kontur yang sudah ada. Kebanyakan dari mereka akan memolesnya lagi sedemikian rupa untuk menarik pengunjung sebanyak-banyaknya.

Gorial Top Selfie
Gorial Top Selfie

Beberapa bulan yang lalu saya sempat terkekeh ketika kali pertama melihat sebuah foto seseorang di Instagram bersama replika Gorila dengan ukuran cukup besar. Ini menarik, pikir saya. Saya eksplor lebih jauh foto-foto yang berlokasi di Top Selfie, sampai pada akhirnya saya terpacu untuk mengunjungi (lagi) tempat wisata tersebut.

Berkunjung Kembali

Setelah melewati pintu gerbang Top Selfie dan membayar uang penitipan kendaraan roda dua sebesar Rp.3.000, kemudian menaruh kendaraan di area parkir. Kesan pertama melihat-lihat sekitar Top Selfie, terlalu ramai. Bukan ramai dengan pengunjungnya, tapi ramai karena banyak spot warna-warni di sana.

IMG_2579.jpg
Gerbang masuk Top Selfie

Di area hutan pinus sendiri, terdapat beberapa spot kombinasi bunga-bunga dan balon berwarna-warni cukup meriah. Seperti yang saya bilang di atas, juga terdapat sebuah replika Gorila besar. Tak ketinggalan pula dua buah pohon pandang di kedua sisi jalan. Beberapa spot dikenakan tarif seikhlashnya. Khusus untuk spot pohon pandang, tidak dikenakan biaya sama sekali, alias gratis!

Tidak sampai di sini, berjalan lebih jauh masuk dari Top Selfie, kamu bisa menemukan beberapa spot lebih unik yang dikelola warga sekitar. Mulai dari boks telepon, ayunan melayang, kafe melayang, sampai dengan sepeda melayang. Spot-spot inilah yang membuat area Top Selfie terkesan ramai layaknya pasar malam.

Berbeda dengan spot di areal hutan, spot ini dikelola langsung oleh warga sekitar. Itulah kenapa, setiap tempatnya dikenakan biaya sebesar Rp.5.000 per orang, dan tak bisa ditawar-tawar. Beberapa wahana dikenakan lebih mahal, seperti sepeda melayang atau kafe melayang. Perlu dicatat, spot ini dibuka menjelan jam 08.00. Lebih pagi dari itu posisinya masih dikunci.

Ngomong-ngomong, namanya saja Top Selfie, tapi di lokasi tertentu, kamu akan menemui beberapa tulisan seperti:

Selfie terus, kapan pre-wed berduanya?

Di Top Selfie yang katanya spot terbaik untuk selfie, kamu malah tidak direkomendasikan untuk selfie. Tapi, malah diarahkan untuk menggunakan jasa fotografer yang ada di sana. Ada puluhan fotografer (terdapat kurang lebih dua puluh lima orang) yang siap menemani kamu berkeliling mencari spot terbaik untuk hasil yang terbaik pula.

Walau sebagian dari mereka mengaku amatir dan masih menggunakan kamera menengah ke bawah, tapi cukup terbantu dengan penggunaan lensa yang lebih baik dari kit. Hampir semuanya menggunakan lensa tele untuk memudahkan pengambilan foto di lokasi yang sulit dijangkau, seperti pohon pandang atau spot melayang.

Fotografer yang telah dipilih akan dengan senang hati mengarahkan gaya layaknya fotografer pribadi dan profesinal. Tak cocok? Tinggal jepret ulang. Bahkan tanpa diberi aba-aba, mereka akan dengan senang hati melakukannya berulang-ulang.

Jangan berprasangka buruk sampai kamu tau bahwa harga per fotonya hanya Rp.2.500 saja. Tentunya, tidak semua hasil jepretan yang mereka simpan harus kamu salin. Cukup pilih yang terbaik saja. Hasil fotonya juga dapat langsung kamu salin ke telepon pintar untuk dibagikan ke media sosial.

Tips:
Konon, foto terbaik dihasilkan antara jam 06.00 sampai dengan 09.00 di pagi hari, atau 15.00 sampai dengan 18.00 di sore hari.

Tapi, khusus untuk foto pohon pandang, usahakan untuk mengambil foto di atas 08.00 atau sampai matahari sedikit naik. Jika terlalu pagi, maka akan menghasilkan foto backlight.

Oh ya, sebagai informasi, fotografer yang ada di Top Selfie merupakan pekerja lepas dan tidak terikat langsung dengan pengelola tempat wisata. Kamera, lensa beserta aksesorisnya menggunakan uang pribadi. Tidak ada campur tangan investor di dalamnya. Jadi, mereka tidak perlu setor sebagian hasil jepretan mereka ke pemilik modal. Itulah kenapa, harganya terbilang sangat murah.

Pohon pandang Top Selfie
Pohon pandang Top Selfie

Dengan adanya jasa fotografer (pribadi) ini, tentunya kamu tak perlu bersusah payah mengatur kamera untuk mendapatkan hasil terbaik. Hal ini merupakan nilai lebih dibanding tempat wisata lain yang mematok harga lebih tinggi untuk biaya cetak foto.ย Percayalah, walau kamu menggunakan kamera dan tripod sendiri, akan sangat sulit ketika pengambilan foto di pohon pandang.

Serius, siapa yang butuh foto cetak di zaman sekarang ini? Apalagi jika berwisata beramai-ramai!

Sesekali, cobalah untuk melakukan kegiatan lain di Top Selfie dari sekadar berkunjung, camping misalnya. Top Selfie punya tempat yang cukup luas untuk memasang tenda. Di samping itu, kalian bisa menikmati keistimewaan udara Top Selfie yang sejuk karena berada di lereng Gunung Merbabu.

4 thoughts on “Top Selfie, Rajanya Selfie

Tinggalkan Komentar