Candi Ijo

Pariwisata Indonesia Butuh Istirahat

Setiap kali saya mendengar tentang wisata, saya selalu bersemangat dan rasanya ingin segera beranjak keliling dunia. Kini, pariwisata Indonesia sedang ramai-ramainya menjadi perbincangan hampir setiap orang. Siapa sangka, pariwisata Indonesia mampu menarik perhatian banyak orang untuk dijadikan sebagai kebutuhan sehari-harinya. Dari kalangan anak hingga yang lanjut usia tak ingin kalah turut serta ada di dalamnya.

Dalam hal ini, banyak orang-orang yang mengelola tujuan wisata berlomba-lomba untuk menghasilkan banyak pundi-pundi uang untuk keuntungan semata, tanpa memikirkan dampak ke depannya. Berbagai cara dilakukan hanya untuk menarik perhatian banyak orang untuk mengunjunginya.

Beragam cara dilakukannya untuk mempromosikan wisata mereka masing-masing dengan dalih memperkenalkan wisata Indonesia. Memang tidak ada yang salah, tapi apakah perencanaan tersebut sudah benar-benar matang untuk diperkenalkan ke dunia? Apakah sudah dipikirkan dampak baik dan buruknya? Apakah sudah ada plan A, plan B, atau plan C jika terjadi sesuatu dengan alam kita? Semua harus terencana dan terarah. Harus ada rencana dan solusi yang mendukungnya.

Pariwisata Indonesia butuh istirahat.

Pernah mengunjungi salah satu destinasi di Gunungkidul? Belum lama ini muncul beragam wisata yang diklaim dan dijadikan salah satu destinasi andalan di Yogyakarta. Seperti wisata air, goa, pantai dan lain sebagainya. Tak jarang orang menyempatkan berkunjung ke destinasi ini untuk sekadar memuaskan hasrat kurang pikniknya.

Menurut riset, hampir setiap harinya, wisata di Gunungkidul memiliki jumlah pengunjung sebanyak ratusan orang dan setiap weekend bisa mencapai ribuan pengunjung. Bisa dibayangkan seperti apa suasana tempat wisata di sana?

Sangat disayangkan bukan, pengelola hanya terpaku mencari keuntungan semata demi nama baik dan menghasilkan uang yang banyak tanpa memikirkan ekosistemnya, kondisi lingkungannya, dan juga apakah bisa bermanfaat untuk semua.

Pernah ke salah satu pantai yang ada di Gunungkidul. Demi keinginan untuk melihat keindahan bawah laut, orang rela berdesak-desakan untuk mengikuti hasrat keingintahuan mereka. Sangat disayangkan (lagi), tanpa sadar mereka menginjak, memegang, bahkan membawa pulang. Itu bukan mainan!

Pihak pengelola tak memikirkan seperti apa jadinya nanti jika karang-karang itu rusak, mati atau bahkan punah. Mereka hanya memikirkan bagaimana caranya menghasilkan uang yang banyak tanpa memikirkan dampak untuk ekosistemnya. Meskipun perlu bertahun-tahun untuk memulihkannya. Siapa yang peduli akan hal itu?

Harapannya, Pemerintah Daerah bisa menjadi kendali utama di sini. Seperti, mengeluarkan sebuah peraturan yang mampu melindungi lingkungan dan ekosistemnya. Bukan hanya membiarkan begitu saja, dan diserahkan ke warga setempat untuk dikelola tanpa pengetahuan yang cukup bagi mereka.

Alhasil, mereka menjual dengan harga yang tak masuk logika. Memang tujuannya untuk kesejahteraan warga, tapi caranya yang belum tepat. Itulah mengapa, pengarahan baik secara langsung maupun tertulis masih sangat diperlukan. Apalagi kebanyakan dari mereka tidak mengenal bangku sekolah.

Namun, ada beberapa destinasi wisata yang dikelola dengan sangat baik. Seperti goa bawah tanah yang ada di Gunungkidul, Goa ini merupakan destinasi wisata menarik sebenarnya, tidak hanya menarik dari keindahan alamnya, tapi menarik dari cara kinerjanya.

Untuk ke sana setiap orang di banderol dengan harga 450.000/orang dan setiap harinya hanya 70 orang saja yang bisa berkunjung ke sana. Ini bukan soal harga yang mahal, namun memberlakukan peraturan seperti ini sangatlah membantu alam kita. Peraturan ini ada karena mereka perlu menjaga kealamian dan kelestarian alamnya.

Selain itu, ada lagi pantai di daerah Malang, untuk berkunjung, kamu harus tahu dulu seperti apa peraturan yang diberlakukan untuk berkunjung ke sana. Jangan sampai sesampainya di sana ternyata kamu tidak bisa berkunjung ke sana. Alasannya masih sama, menjaga ekosistemnya.

Seperti halnya gunung-gunung di Indonesia. Hampir setiap tahun, tim pengelola gunung di Indonesia akan menutup jalur selama beberapa bulan. Hal ini dilakukan oleh pihak pengelola untuk mengembalikan ekosistem yang rusak karena alam atau ulah manusia. Dan tentunya akan diberlakukan sanksi berat bagi pendaki yang melanggarnya

Sekali lagi, Pariwisata Indonesia butuh istirahat. Aset yang perlu dijaga merupakan investasi masa depan anak cucu kita. Ini bukan tugas pemerintah atau pihak pengelola saja. Tapi bisa dimulai dari diri kita, bahwasanya menjaga kelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama.

By the way, tulisan ini merupakan sekilas opini tentang kesedihan saya terhadap pariwisata Indonesia saat ini, tidak ada unsur provokasi maupun komersial didalamnya.

“Lantas, kontribusi apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga pariwisata Indonesia?”

Cukup dimulai dari hal sederhana, dari diri kita dengan tetap saling menjaga.

2 Comments

  1. Lebih tepatnya butuh pendidikan bung..
    Terutama pihak-pihak pengelola yang berhubungan langsung dengan destinasi yang ada supaya juga bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian alamnya..

  2. makanya kadang aku pengen ada pariwisata yang memang jangan diexpose terlalu.. tapi ini kan masuk dalam visi kementrian untuk 20 juta wisman datang ke indonesia.

Tinggalkan Komentar