Pantai Teluk Hijau

Pantai Teluk Hijau (Green Bay), Permata Tersembunyi di Banyuwangi

Itinerary sudah disusun sedemikian rupa. Nampaknya semua sudah sesuai dengan rencana. Tempat yang bakal kami (saya dan Ika) tuju di Banyuwangi pada hari pertama adalah Baluran dan Teluk Hijau (Green Bay). Sayangnya, kami lupa membuka satu benda, sebuah peta. Ternyata, kedua tempat wisata tersebut berada pada dua lokasi yang berjauhan, Teluk Hijau di selatan, sedangkan Baluran di utara. Yang pada akhirnya, membuat kami mengunjungi Teluk Hijau di hari kedua pada saat berada di Banyuwangi. Karena berdasarkan saran, kedua tempat tersebut tak cukup dikunjungi dalam satu hari.

Sembari membuka peta dan bertanya pada kolega, tersebut lah satu pantai lain yang lokasinya satu arah dengan Teluk Hijau, Pantai Pulau Merah (Red Island) namanya. Konon, pantai ini cocoknya dikunjungi sore hari, sambil menunggu matahari tenggelam.

Pantai Pulau Merah di senja hari
Pantai Pulau Merah di senja hari

Berbekal peta digital dari Google, pukul 09.00 kami memulai memberangkatkan diri. Dari pusat kota menuju selatan, mengikuti penunjuk jalan dan bus jurusan Jember. Menurut informasi dari beberapa orang yang pernah ke sana, butuh waktu sekitar 4 jam untuk sampai ke lokasi. Jaraknya sendiri kurang lebih 90 kilometer dari pusat kota Banyuwangi. Bakal melelahkan, pikir saya.

Kendaran yang kami tumpangi terus saja melaju, mengikuti arahan navigasi dari gawai.

Dua jam sudah berlalu, dan kami menemukan sebuah persimpangan dengan salah satunya terdapat penunjuk menuju Pantai Pulau Merah. Sampai di sini, saya baru menyadari kalau Pulau Merah dan Teluk Hijau tak sepenuhnya dalam jalan yang sama. Dari persimpangan tersebut, tak lebih dari 3 kilometer untuk sampai ke Pulau merah. Karena cuaca masih terik, kami putuskan untuk menuju ke Teluk Hijau terlebih dahulu, untuk kemudian memburu sunset di Pulau Merah. Saya sempat ceria,  karena berpikir pastilah Teluk Hijau sudah tidak jauh adanya. Ternyata saya salah besar.

Dua jam pertama yang kami tempuh menuju Teluk Hijau, ternyata baru setengah jalan yang kami lewati. Memasuki gerbang PT Perkebunan Nusantara masih enak, jalan masih begitu mulus. Ketika sampai di gerbang Taman Nasional Meru Betiri dan membayar retribusi, jalan sudah tak nyaman, lubang di mana-mana, ditambah lagi gerimis hari itu dan sisa hujan hari kemarin membuatnya tambah becek. Dengan tetap dipandu Google Map, kami terus saja menyusuri jalan pedesaan dengan jalan bercabangnya yang membingungkan. Untungnya, sesekali, kami menemukan penunjuk jalan yang cukup jelas di beberapa persimpangan.

Gerbang Taman nasional Meru Betiri
Gerbang Taman nasional Meru Betiri

Kami sempat bertanya pada petugas pengelola Taman Nasional mengenai kondisi jalan yang akan dilalui. Mereka mengatakan, kondisinya masih tidak nyaman untuk dilalui. Mereka juga bilang, kalau jalan menuju Teluk Hijau akan diaspal mulus tahun ini. Hanya saja masih menunggu musim kemarau tiba agar pekerjaan dapat dilakukan. Petugas juga memberikan pesan agar hati-hati di jalan, karena anginnya begitu kencang di saat jam siang sampai dengan sore hari. Dikhawatirkan, terdapat pohon tua besa yang rapuh dan tumbang karenanya.

Lain cerita pengelola taman nasional, lain pula cerita pengelola rumah singgah tempat kami menginap. Menurut mitos, jalan tersebut sengaja tak diperbaiki karena posisinya yang rawan. PT Perkebunan Nusantara punya ribuan hektar lahan yang dikelola, mulai dari kebun sampai dengan hutan. Nah, seandainya jalan tersebut dibuat mulus, maka akan memudahkan para maling hutan mengangkut barang hasil curian mereka dengan cepat. Berbeda jika kondisi jalannya masih jelek, sebelum mereka keluar dari area tersebut, pasti sudah tertangkap duluan karena tidak bisa ngebut. 😀

***

Di depan jalan, kami menemukan sebuah pantai yang cukup bersih. Awalnya, kami mengira pantai tersebut adalah Teluk Hijau. Wajar saja kami mengira begitu, warna air lautnya memang kehijauan.

Sejenak saya sempat berpikir, “Kok gampang aksesnya? Bukannya perlu trekking untuk sampai ke Teluk Ijo?”. Beberapa saat kemudian kami baru sadar kalau pantai tersebut bukanlah Teluk Hijau. Setelah kembali ke penginapan, barulah kami mendapati kalau namanya adalah Pantai Pancer.

Perjalanan dilanjutkan dengan melewati beberapa pantai yang sarat dengan nelayan di sana. Cocok sebagai tempat wisata keluarga, batin saya. Karakteristik pantainya sendiri mirip Pantai Depok yang ada di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari lokasi ini, akses menuju Teluk Hijau sudah cukup dekat.

Melewati hutan dengan jalan dengan bebatuan terjal serta licin, cukup menguras tenaga ketika menuju penitipan kendaraan. Perlu ekstra hari-hati agar tidak tergelincir jatuh.

Akses Menuju Pantai Teluk Ijo
Akses menuju Pantai Teluk Hijau

Dari lokasi parkir, kita diharuskan trekking lagi kurang lebih 15 menit. Melewati pepohonan besar yang rawan tumbang diterpa angin kencang. Perjalanan yang cukup melelahkan. Untungnya, di tengah jalan sebelum sampai di tujuan, kita bakal menemukan sebuah pantai yang cukup unik. Pantai Batu namanya. Dinamakan seperti itu karena memang bibir pantainya diselimuti oleh bebatuan berwarna hitam. Bebatuan tersebut terbentuk secara alami, tanpa campur tangan manusia.

Pantai Batu
Pantai Batu

Berjalan sedikit lagi. Dan, tibalah kami di Pantai Teluk Hijau.

Selamat datang di Pantai Teluk Hijau!
Selamat datang di Pantai Teluk Hijau!

Sampai di sana perasaan bahagia bercampur aduk dengan kecewa. Bahagia karena sudah tujuan akhirnya tercapai juga dan takjub akan pemandangannya, dan sedih karena yang awalnya gerimis kini semakin deras. Alhasil, kami terpaksa harus beristirahat sejenak di mushola di sekitar pantai.

Ukuran bibir pantainya sendiri tidak terlalu luas, serta diapit oleh dua tebing. Itulah kenapa disebut sebagai teluk. Kata hijau dari Teluk Hijau tak perlu dipertanyakan lagi sebenarnya, ialah karena memang airnya berwarna hijau, bukan karena hasil edit pada foto. Untuk melihat lingkungan sekitar pantai, dapat membuka tautan Instant Street View berikut.

Perlu waspada jika sedang bermain di sekitar pantai, mengingat tempat ini dipenuhi oleh monyet-monyet yang rakus. Sebagian dari mereka bertujuan untuk mencuri makanan. Tak jarang dari mereka juga mencuri barang-barang lain selain makanan. Saya mengira, monyet-monyet di sini lebih ganas dibanding tempat lain, seperti Baluran misalnya. Jika diusir, mereka berusaha mengancam dengan kejam. Kuncinya satu, jangan takut. Jika takut, mereka semakin berulah.

Di sekitar pantai, sebenarnya terdapat sebuah tempat wisata lain, Air terjun Bidadari. Tingginya kurang lebih delapan meter. Di musim kemarau debit airnya memang tidak terlalu deras. Berkebalikan ketika kita berkungjung ke sana saat musim hujan. Sayang, plesiran di saat musim hujan memang banyak dapat tak enaknya.

“Konon, air terjun di Teluk Hijau itulah yang menjadi ujung pelangi. Usut punya usut, orang yang punya kemampuan spiritual kerap melihat sosok perempuan cantik sedang mandi saat pelangi muncul.”

— Detik Travel

Foto: Detik Travel
Foto: Detik Travel

Selain Air Terjun Bidadari, jika kita memperhatikan sejenak, di sekitar areal pakir juga terdapat tempat yang tak kalah menarik untuk dikunjungi, ialah Gua Jepang.

Gua Jepang
Gua Jepang

Perjalanan yang menghabiskan waktu empat jam untuk sampai ke tujuan, agaknya harus dibayar lunas dengan berlama-lama bermain di Teluk Hijau. Maka, jadilah kami menghabiskan waktu untuk bercanda serta hunting foto dengan berbagai gaya.

Ketika hujan mulai reda, hari semakin gelap. Maka kami putuskan untuk kembali pulang, melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya, Pantai Pulau Merah.

Sambil tersenyum bahagia, dalam hati saya membayangkan betapa bakal berlanjut deritanya melewati perjalanan pulang. Hufft! ?

Bonus perjalanan pulang, sawah!
Bonus perjalanan pulang, sawah!
Yugo Dedy Purwanto

<p>Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.</p>

5 Comments

  1. Aku ke sana 2014, nyewa boat dari Rajegwesi jd cuma bentar dan gak pake treking. Hehehehe

  2. Ajak kesana lagi dong Kak.

  3. Jos banget. Suk ajak-ajak yo.
    Juaraak

    1. Kapok Kang ke sini. Sebelum jalannya mulus, ga mau diajak atau ngajak-ngajak. ?

      1. Lha itu sensasinya. Bareng cewek lagi. :v jiaaaaaaaa

Tinggalkan Komentar