Pengalaman Pertama Mendaki Gunung Merapi Sendirian

Sejujurnya, ini kali pertama saya mendaki gunung seorang diri. Dari dulu, sering terbesit rencana untuk mendaki gunung sendirian, namun karena beberapa hal, selalu saya urungkan niat tersebut. Beberapa alasan di antaranya adalah larangan beberapa kolega karena takut terjadi apa-apa. Di sisi lain, niat saya yang belum begitu mantap.

Oh ya, mendaki sendirian dan tanpa kelompok, bukan berarti di perjalanan tidak ketemu orang sama sekali ya.

New Selo
New Selo

Kegiatan mendaki sendiri ini juga sebenarnya tidak disengaja. Awalnya, direncanakan mendaki bersama rekan kerja. Berhubung miss-communication, akhirnya saya putuskan untuk nanjak sendiri. Beruntung, peralatan yang saya bawa sudah lengkap dan memenuhi standar pendakian. Cuma kurang kompor dan panci, sengaja tidak dibawa karena memang dari awal ingin makan cepat saji dan snack.

Bertanyalah pada dirimu sendiri, apa motivasimu mendaki? Mencari jati diri? Mengalahkan ego pribadi? Mengenal batas diri?

Sempat hampir tidak disetujui ketika registrasi di Barameru (basecamp Merapi), saya bilang kalau sudah pernah mendaki Merapi, paling tidak punya pengalaman dan sedikit banyak tau medan di sana. Kalau dikhawatirkan berjalan seorang diri, akan saya usahakan cari kelompok selama di perjalanan. Mereka menyetujui untuk bergabung dengan tim lain dengan catatan formulir registrasinya juga digabung dengan tim lain. Untuk hal ini, saya menolak, maunya menggunakan formulir registrasi yang sendiri karena emergency contact-nya pasti berbeda. Masuk akal, dan mereka setuju.

Perjalanan saya mulai dari malam hari menuju Pasar Bubrah dengan durasi sekitar 6 jam. Selisihnya tidak jauh memang dengan estimasi Barameru yang membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam. Entah kenapa pendakian kali ini begitu lambat, padahal bawaan tidak begitu berat. Mungkin karena faktor bosan dan tidak ada teman ngobrol. Bisa juga karena ngantuk.

Walau jarak dari basecamp ke Pasar Bubrah tidak sejauh Gunung lain (Merbabu misalnya), tapi medan yang dilalui begitu menantang dan variatif. Apalagi sedari awal sampai tiba di camping ground kita hanya disuguhi tanjakan nan terjal. Sebut saja medan kerikil & bebatuan, pasir, dan batu besar. Ditambah, pada musim kemarau, tanah yang biasanya padat malah menelurkan bulir-bulir debu sedalam 1-2 cm.

Siapkan masker untuk keamanan pernafasan ya!

Selain menggangu pernafasan, tanah berdebu tebal juga menyulitkan ketika kita menuruninya. Beberapa pendaki tentu saja sering dibuat terpeleset olehnya. Saya salah satu korbannya, meninggalkan nyeri di kaki sampai hari ini.

Pasar Bubrah
Pasar Bubrah

Ketika sampai di Pasar Bubrah sekitar jam 01.00 dinihari, hanya tubuh lelah lah yang dirasa. Bahkan niat awal foto bintang dan galaksi saya urungkan karenanya. Padahal, malam itu, udara tidak sedingin biasanya. Angin hanya sesekali berhembus kencang. Di dalam tenda pun begitu hangat walau tanpa sleeping bag.

Bayangkan seandainya saya merencanakan untuk mendaki Puncak Garuda juga.

Loh, bukannya Pendakian ke Puncak Garuda dilarang ya dari bulan Juni kemarin? Harusnya sih begitu, tapi entah kenapa beberapa pendaki masih saja nekat menapakkan kakinya di gundukan berpasir dan berbatu untuk sampai ke bibir kawah merapi.

Puncak Garuda
Puncak Garuda

Sangat disayangkan hal tersebut masih terjadi, terlebih tidak ada ranger yang menjaga dan memperingatkan tindakan tersebut.

Soal menanjak seorang diri, paling tidak, memberikan saya banyak pengalaman dan pelajaran. Memberikan batasan sekaligus keuntungan serta kelebihan. Walau, mendaki berkelompok sebenarnya jauh lebih seru.

Seperti apa rasanya saat mendaki seorang diri? Artikel di bawah mungkin bisa menjelaskan dengan bahasa yang lebih dimengerti.

4 Pengalaman Luar Biasa saat Mendaki Seorang Diri

Jika ditanya, apakah ingin mendaki seorang diri lagi? Jawabnya iya, tapi tidak dalam waktu dekat.

I rise the sun!
I rise the sun!

Siang telah tiba, saya pikir tidak bisa berlama-lama di sana karena rasa bosan mulai melanda. Saya putuskan untuk kembali ke basecamp dan pulang ke Yogyakarta.

3 thoughts on “Pengalaman Pertama Mendaki Gunung Merapi Sendirian

  1. keren sekali kadang memang sesekali perlu mendaki sendirian, pertama kali saya mendaki sendiri dulu juga di merapi desember 2011. waktu itu registrasi masih belum terlalu ketat. oh ya untuk mendaki sendiri persiapan harus bener-bener mateng dan diperhitungkan hehe… dulu saya sampai membuat simulasi mendirikan tenda kapasitas 3-4 seorang diri, karena musim hujan jadi mau ga mau harus bawa tenda. lumayan lama perjalanan waktu itu, 4 jam baru sampai pasar bubrah. padahal biasanya kalau bareng temen bisa 3 jam hehe…

Tinggalkan Komentar