Jogja Scrummy, Kontroversi namun Terus Dicari

Mengingat Yogyakarta (provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta), ada banyak topik yang bisa dibahas di dalamnya. Mulai dari pendidikan, budaya, tujuan wisata, sampai dengan ragam kulinernya.

Soal tujuan wisata, Yogyakarta tak perlu diragukan lagi. Sebagai kota tujuan wisata nomor dua di Indonesia, tentunya, Yogyakarta bakal selalu ramai dikunjungi oleh pelanjong. Berbagai jenis kendaraan dari luar daerah tumpah ruah di jalanan Yogyakarta.

Berbicara kuliner, ada salah satu jenis makanan yang mulai naik daun selama setahun ini, namanya Jogja Scrummy.

Saya ingat betul, setahun lalu, ketika outlet pertama dibuka di Yogyakarta (23 Juni 2016), pengelola Jogja Scrummy yang dipimpin langsung oleh aktor terkenal di kalangan ibu-ibu, Dude Herlino, mengundang berbagai media. Baik formal maupun informal, dari media cetak sampai dengan media elektronik. Wartawan, blogger, vlogger, foddiest, sampai reviewer (tukang resensi), semuanya ada. Tujuannya utamamya tentu saja untuk mengangkat dan mengenalkan jenama Jogja Scrummy pada khalayak.

Di awal kemunculan Jogja Scrummy, ada banyak cibiran yang dilayangkan kepadanya, dengan alasan ngaku-ngaku sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta yang bertahun-tahun identik dengan (salah satunya) Bakpia. Ada banyak artikel yang khusus membahas betapa Jogja Scrummy terlalu cari muka dan dianggap dapat mematikan kuliner tradisional di Yogyakarta. Benarkah begitu?

Alih-alih melakukan hal yang sama (membahas kontroversialnya kekhasan Jogja Scrummy), saya akan bercerita sedikit perkembangan dan sejarah Jogja Scrummy selama satu tahun berdiri di Yogyakarta.

***

Sabtu, 17 Juni 2017, Jogja Scrummy mengundang blogger dan foodiest dalam acara buka bersama di De Kendhil Resto. Inti acara adalah syukuran berdirinya Jogja Scrummy setahun pertama.

Sesi berbagi bersama tim Jogja Scrummy
Sesi berbagi bersama tim Jogja Scrummy

Di acara tersebut, manajamen Jogja Scrummy berbagai cerita seputar perkembangan Jogja Scrummy selama satu tahun ke belakang. Mulai dari jumlah outlet yang awalnya hanya satu buah, sekarang sudah menjadi empat buah, sampai dengan variasi rasa yang sekarsng mulai tersedia varian premium.

Tim media Jogja Scrummy menekankan kalau bahan makanan yang mereka gunakan dijamin halal, sehat, serta dari bahan pilihan yang berkualitas. Tidak semua makanan halal enak ketika dipadu-padankan, oleh karenanya ada bahan pilihan khusus dalam pembuatan Jogja Scrummy.

Kuliner di De Kendhil Resto
Kuliner di De Kendhil Resto

Sumber bahan makanannya sendiri juga diambil dari petani lokal. Seperti varian baru, yaitu rasa wortel, di mana bahan baku wortelnya diambil langsung dari petani yang tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sampai saat ini, ada sebelas varian yang dihadirkan oleh Jogja Scrummy, yaitu: Jogja Scrummy reguler serta varian tambahan dengan rasa Cheese, Chocolate, Mangga, Srikaya, Taro, dan Caramel.

Ragam rasa Jogja Scrummy
Ragam rasa Jogja Scrummy

Jika diperhatikan pada outlet Jogja Scrummy, kita hanya melihat tumpukan makanannya hanya tersedia di meja kasir. Lantas, rak dan ruang kosongnya diisi apa?

Jogja Scrummy meneguhkan komitmen untuk memajukan perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta dengan membawa misi menjadi bagian masyarakat Yogyakarta. Bahasa sederhananya, kalau Jogja Scrummy berkembang, maka pengusaha kuliner di Yogyakarta juga harus ikut berkembang. Hal ini dibuktikan oleh Jogja Scrummy dengan merangkul masyarakat desa Nanggulan, Kulon Progo, untuk produksinya. Selain itu, Jogja Scrummy juga menggandeng UMKM yang menghadirkan lebih dari 200 produk di outlet-nya. Maka jangan heran ketika kamu bertandang ke Jogja Scrummy, di sana kamu juga mendapati kuliner khas lain seperti Gudeg, Jenang, Geplak, dan makanan yang sudah familiar sebelumnya.

Di bidang pariwisaya, Jogja Scrummy mendukung berbagai kegiatan dari dinas pariwisata, ASITA, PHRI, dan berbagai organisasi lainnya yang sama-sama memiliki tujuan dalam peningkatan kemajuan Daerah Istimewa Yogyakarta. Seandainya, kamu punya organisasi sosial atau sekadar hura-hura (tapi bermanfaat), bisa juga mengajukan proposal untuk mendapatkan dukungan dari Jogja Scrummy.

Foto bersama teman media, blogger
Foto bersama teman media, blogger

Terkahir, dunia terus berkembang, segala bidang harus ada perubahan, termasuk urusan kuliner. Kehadrian Jogja Scrummy yang mengklaim diri sebagai oleh-oleh khas Jogja, bukan berarti menggantikan oleh-oleh khas yang bertahun-tahun lamanya sudah ada. Namun lebih sebagai alternatif pendamping oleh-oleh yang biasa yang kita punya, yang dipunya Jogja.

Tinggalkan Komentar