Gumbeng Pagak, Banjarnegara

Gumbeng sebagai Simbol Tolak Bala dan Wujud Syukur Petani Pagak, Banjarnegara

Tahun 1921, sekelompok petani di desa Pagak, Banjarnegera, membuat alat musik yang bernama Gumbeng. Sebagai awalan, terbentuknya alat musik tersebut tak lebih dikarenakan para petani membutuhkan hiburan semata.

Membuat alat musik tentu saja tidak mudah, repot lagi kalau bahan mentah yang dibutuhkan tak selalu tersedia. Tahun itu, logam bukanlah barang yang mudah didapat. Kalaupun ada, nominal yang dikeluarkan untuk mendapatkan bahan tersebut merupakan sebuah pemborosan bagi warga yang menjadikan bertani sebagai profesi utama. Menggunakan logam sebagai pilihan utama alat musik mempunyai alasan kuat, selain karena bisa bertahan lama terhadap usia, bunyi yang dihasilkan juga menarik dan nyaring.

Pada akhirnya, tetap saja logam belum bisa diimplementasikan dalam alat musik. Hal ini membuat petani harus berusaha keras mencari bahan substitusi dengan harapan alat musik tetap terwujud.

Tak mau berputus asa, maka dipilihlah bambu sebagai bahan baku utama untuk Gumbeng. Alasan utama penggunaan bambu adalah karena mudah didapat, terlebih di tahun itu jumlah bambu sangat melimpah. Selain itu, bambu punya ruas yang panjang; berpengaruh untuk menghasilkan nada terbaik. Bisa jadi, alasan lainnya karena terinspirasi dari keberhasilan alat musik dengan bahan baku yang sama, seperti Angklung, Karinding, dan Gambang misalnya.

Tak mudah untuk membuat alat musik Gumbeng, tak semua orang juga bisa membuatnya. Maka diperlukan keahlian khusus untuk membuat Gumbeng agar nada yang dihasilkan tak timpang.

Secara singkat, Gumbeng dibuat dari bambu kering yang dipotong. Bambu tersebut kemudian dikupas (beset) dan ditatah sehingga membentuk dawai. Alat musik Gumbeng tak cukup hanya dengan dawai, tapi juga dilengkapi dengan sebilah bambu sebagai penghasil nada dengan cara dipukul.

Tak hanya Gumbeng, dalam kelompok juga butuh instrumen lain untuk menghasilkan musik
Tak hanya Gumbeng, dalam kelompok juga butuh instrumen lain untuk menghasilkan musik

Untuk memainkan kesenian Gumbeng, dibutuhkan sekurangnya dua belas orang dalam satu kelompok musik. Setiap individu bertanggung jawab terhadap satu alat musik yang dipegang. Adapun formasinya adalah empat orang memainkan alat musik Gumbeng, dua orang memegang Dendem, dua orang menabuh Gong serta melodi, satu orang pemain Kecruk, dan dua orang lainnya menabuh Keprak. Dalam satu kelompok musik, terdapat satu atau dua orang Sinden yang mengiringi alunan musing dengan Kidung Jawa.

Gumbeng Bukan Hanya sebagai Hiburan

Seiring dengan bergantinya tahun, penggunaan Gumbeng tak hanya untuk hiburan semata, tapi disakralkan menjadi prosesi ritual yang harus dijalankan di waktu-waktu tertentu. Sebagai desa agraris yang sebagian besar warganya merupakan petani, maka sudah barang pasti ritual yang dijalankan berhubungan dengan pekerjaan tersebut.

Umumnya, Gumbeng dimainkan ketika petani memanen padi mereka. Tradisi ini dihayati sebagai pengejawantahan rasa syukur terhadap Yang Maha Kuasa atas kelimpahan hasil panen. Dengan kepercayaan yang masih tinggi terhadap dewa-dewi, Gumbeng diyakini sebagai ritus untuk menghantarkan Dewi Sri atau yang biasa disebut Dewi Padi ke Khayangan.

“Gumbeng dimainkan saat upacara, baik yang berhubungan dengan pertanian, permintaan hujan atau upacara tolak bala”

Bukan panen raya saja, Gumbeng juga digunakan untuk kegiatan pertanian lain, seperti memulai cocok tanam, meminta hujan, serta menjauhkan padi dari gulma & hama yang dapat mengganggu pertumbuhan. Beriringan dengan berjalannya ritual dengan Gumbeng, ada doa yang selalu mengikuti agar padi dapat dipanen tanpa hambatan.

Gumbeng digunakan sebagai prosesi ritual dan bagian dari kesenian
Gumbeng digunakan sebagai prosesi ritual dan bagian dari kesenian

Selain ritual yang berhubungan dengan pertanian, Gumbeng juga digunakan sebagai tolak bala. Semisal, permohonan untuk menjauhkan penyakit dari bayi atau anak kecil. Lagu yang dibawakan untuk tolak bala adalah Sekar Dandang Gula.

Modernisasi yang Melunturkan Budaya Leluhur

Modernisasi dan perkembangan zaman seringkali membawa budaya baru yang positif. Imbasnya, seringkali budaya lama juga tertimpa oleh budaya baru tersebut. Generasi-generasi muda, di usia belianya seringkali hanya menikmati secuil budaya leluhur mereka. Di usia dewasa, generasi ini hampir kehilangan budaya yang mereka saksikan dulu kala. Sebagain tak acuh dengan budaya lama, atau malah terbawa arus dengan budaya baru.

“Tidak sekadar musik, tapi ada kearifan lokal yang berdampak positif bagi warga”

Alat musik Gumbeng tak luput dari gilasan waktu dengan dalih modernisasi. Termakan usia, pemain alat musiknya mulai berguguran menghadap Sang Pencipta. Sebagian orang yang peduli, tak paham cara menggunakannya. Di sisi lain, generasi penerusnya, sebagian tak lagi bekerja sebagai petani dan menganggap Gumbeng sudah tak diperlukan lagi sebagai sebuah prosesi ritual. Pergantian kultur membuat petani mengubah cara mereka mensyukuri hasil panen. Hanya menunggu waktu sampai Gumbeng menjadi kilasan nama dan berbentuk sebuah foto di museum.

Pada kenyataannya, Gumbeng memang sempat menghilang puluhan tahun, tak pernah dimanjakan. Beruntunglah, sebagian generasi muda mampu menghidupkan kembali budaya leluhur mereka. Penggalian budaya ini juga didukung oleh sejumlah orang tua yang masih ingat bagaimana membuat dan memainkan Gumbeng.

Sampai kemarin hari, kesenian Gumbeng masih dimainkan oleh warga Pagak di Banjarnegara. Mereka berharap, kesenian ini dapat dikenal oleh masyarakat luas di luar lingkungan mereka dengan tujuan selalu ada generasi yang mampu meneruskan budaya leluhur mereka. Hal ini bisa saya maklumi. Jika kita lihat dalam foto, sebagian besar pemainnya didominasi oleh orang tua.

Semoga kepunahan Gumbeng hanya terjadi sekali. ­čÖé

Yugo Dedy Purwanto

<p>Web Programmer and traveler. Penulis blog pribadi dalam hal berbagi pengalaman menjelajahi seluk beluk Nusantara.</p>
<p>Hobi foto dan jalan-jalan.</p>

4 Comments

  1. Kadang sedih juga lihat alat musik tradisional gini yang enggak lestari. Kaum muda pada ogah memainkannya. Nggak keren soalnya. Jadi ingat budengan di Wonosobo, Krumpyung di Kulonprogo, dan Rinding Gumbeng di Beji Gunungkidul. Rata-rata saat menyebut nama itu sudah pada nggak tau. Jangankan tau, dengar namanya saja enggak pernah mungkin.

  2. lengkap banget nih informasinya. melihat pemain musik Gumbeng sumringah saat memainkan musik, bikin aku jadi terharu

  3. Seneng bermain Gumbeng bersama orang-orang lokalnya, mereka terlihat ramah dan masih semangat memainkannya. Semoga terus ada alat musik dan budaya ini.

    1. Iya, walau sudah sedari pagi nunggunya, walau bete, tetap dijalankan.

Tinggalkan Komentar