Gunung Prau

Carilah Pasangan Pendaki Gunung, Nduk

“Carilah pasangan seorang pendaki gunung, Nduk.”

Begitulah kata seseorang yang saya kenal baik seperti keluarga sendiri, beberapa tahun yang lalu. Banyak orang yang mengatakan bahwa seorang pendaki itu tidak punya tujuan hidup, ugal-ugalan, berantakan, bahkan tidak punya masa depan. Saya tak pernah membantah pendapat tersebut, tapi percayalah, itu hanya segelintir opini dari beberapa orang saja. Tidak semua pendaki seperti itu. Masih banyak kita temui pendaki gunung yang memiliki karir dan masa depan bagus.

Pasar Bubrah, Gunung Merapi
Pasar Bubrah, Gunung Merapi

Mendaki gunung sekarang sangat berbeda dengan jaman dulu. Ada yang memang mendaki karena hobi, ada pula yang mendaki karena sekadar ikut-ikutan. Pendaki (ngakunya pendaki) dadakan inilah yang membuat saya kadang merasa miris. Sebagian dari mereka tak paham betul etiket mendaki, seringkali berlaku seenak jidat mereka. Ya membuang sampah sembarangan, membuat api unggun di area gunung, serta tak patuh terhadap peraturan yang telah ditentukan. Bahkan, banyak dari mereka yang masih kurang akan pengetahuan mendaki, namun masih nekat untuk menjelajah gunung.

Bertanyalah pada dirimu sendiri, apa motivasimu mendaki? Mencari jati diri? Mengalahkan ego pribadi? Mengenal batas diri?

Banyak orang berpendapat bahwa pendaki gunung itu setia, romantis, apa adanya, mandiri, dan juga bisa diandalkan. Dan saya yakin bahwa mereka layak untuk dijadikan pasangan. Pun begitu, bukan berarti mereka tak punya kekurangan loh. Ingatlah bahwa tidak ada yang sempurna di dunia.

Mendaki gunung mengajarkan banyak hal yang tidak didapat di lingkungan biasa. Menghadapi cuaca yang tak menentu dan menjada kondisi alam yang sulit diprediksi, membuat seorang pendaki harus mampu beradaptasi selama berada di gunung. Mendaki gunung juga membentuk mental berani dengan karakter yang kuat untuk mereka. Kedisiplinan, pengorbanan, kerja keras, kesabaran dan menaklukkan diri. Hal tersebut setidaknya saya dapatkan dan rasakan sendiri ketika mendaki.

Tak jarang pula saya menemui mas-mas pendaki yang ramahnya tidak ketulungan. Selain ramah dan memberikan kehangatan kepada sesama, kebersamaan semacam ini hanya akan kamu temui di gunung loh.

Gunung Merbabu
Gunung Merbabu

Menjejakkan kaki di puncak itu bonus, proses perjalanan mereka itulah yang membuat mereka sadar akan pentingnya menghargai kehidupan. Kalimat barusan bukan sekadar penyemangat semata, namun juga merupakan sebuah filosifi yang bermakna tidak ada yang cuma-cuma, semua butuh pengorbanan. Begitu juga di kehidupan, kamu tidak mungkin mendapatkan sesuatu hanya dengan berucap, kamu harus berjuang dan berusaha untuk mendapatkannya dong? Dan itu keren.

Punya pasangan seorang pendaki itu mengajarkan arti kesabaran. Kamu harus sabar menunggu kabar darinya sembari dia berada di ketinggian dalam kondisi apapun. Sesekali memang membuat kamu merasa khawatir, namun di situlah tantangannya. Mereka juga tidak romantis, jangan berharap kamu diajak dinner romantis di restoran mewah seperti pasangan-pasangan lainnya. Mereka bukan orang seperti itu, justru mereka bisa lebih romantis dengan mengajakmu melihat matahari terbit di puncak gunung sembari menikmati secangkir kopi.

Gunung Merapi
Gunung Merapi

Jadi, apakah kamu masih ragu untuk menemukan pendamping hidup seorang pendaki? Carilah pasangan pendaki gunung ya, Nduk.

4 Comments

  1. Cariin dong mbak Ika 😀

    1. Banyakin jalan-jalannya, banyakin kenalan sama banyak orang di luar sana, biar punya banyak teman. Sapa tahu kan dari temen jadi demen. 😀

  2. iya mas…
    cari pendaki.
    karena aku juga suka mendaki.
    Kan gak seru kalau udah nikah malah aku mendaki sama lelaki lain. #eh

    1. Kalo udah nikah, suami biasanya otomatis jadi “pendaki gunung” #lah

Tinggalkan Komentar