Bromo dan Pesonanya yang Tak (Akan) Pernah Habis

Perjalanan dari Yogyakarta – Jombang – Malang menggunakan alat tranportasi bus cukup melelahkan. Tujuan utama saya satu, Gunung Bromo. Namun, sebelum bertolak melihat (lagi) pesona Bromo tersebut, saya harus bersinggah terlebih dahulu di kota apel untuk sekadar beristirahat dan mencari spot wisata lain, Museum Angkut+ misalnya.

Malang, salah satu kota yang belakangan ramai dikunjungi oleh wisatawan dan tak kalah dengan Yogyakarta. Walau pada akhirnya, banyak dari mereka yang malah menghabiskan waktu berwisata di Kota Batu. Batu itu menarik, banyak theme park bertebaran di sana. Namun, Kota Malang sendiri tak kalah menariknya, menjadi tujuan utama karena biasanya dijadikan titik awal keberangkatan ke Gunung Bromo atau Gunung Semeru. Tak kurang dari itu, kuliner yang ada di Malang juga menjadi daya tarik pelancong, seperti Bakso Bakar Pahlawan misalnya.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 00.00, itu artinya, saya dan Ika harus sudah bersiap berangkat menuju Bromo. Sambil menunggu mobil Jeep yang akan menjemput, saya sempatkan lagi untuk mengecek ulang peralatan fotografi yang harus dibawa. Komplit, gumam saya. Udara malam Kota Malang mulai menusuk kulit, beruntunglah tak lama setelahnya sebuah mobil menghampiri, segera berangkat kata pengendara di dalamnya.

Tak mau dibuat repot, kali ini saya ikut saja open trip yang disediakan oleh Malang Adventure Service (@malangadventureservice). Walau open trip, namun petualangan kali ini serasa private trip. Ya, karena memang pesertanya hanya dua orang.

Saya sempat heran, beneran cuma kami berdua doang? Mas Reza, sopir sekaligus guide kami mengiyakan. “Yang penting, komitmen untuk tetap berangkat, bukan sekadar PHP (Pemberi Harapan palsu)”, katanya.

Tujuan pertama kami adalah Penanjakan Satu yang terletak di Kabupaten Probolinggo. Melewati jalur utara yang sedikit lebih jauh dari jalur selatan. Butuh waktu sekitar 2,5 jam untuk tiba di tujuan. Daripada bengong, lebih baik istirahat dan berharap sudah tiba ketika mata terbuka, pikir saya.

Tiba di tempat tujuan, basecamp Penanjakan Satu. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00. Masih banyak waktu sampai akhirnya sunrise tiba. Para pedagang mulai berhamburan menawarkan berbagai barang kebutuhan pendaki. Sambil menunggu waktu, segelas teh hangat bisa menambah suasana nikmat.

Jam 04.00, kami mulai menuju Penanjakan Satu.

Penanjakan Satu

Dari basecamp menuju Penanjakan Satu tidaklah terlalu sulit, cukup menaiki beberapa anak tangga yang jumlahnya tak terlalu banyak dan hanya menghabiskan waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke tujuan.

Gunung Bromo
Erupsi Bromo, hal yang jarang belum tentu terjadi setahun sekali

Masih satu jam lagi sampai matahari terbit, namun beberapa lokasi sudah ramai ditempati orang-orang yang mencari posisi pas menyaksikan sunrise. Beruntunglah, saya masih kebagian tempat untuk memasang tripod dan kamera di atasnya.

Kebanyakan tamu yang berkunjung merupakan wisatawan mancanegara dan hanya beberapa di antaranya merupakan wisatawan lokal. Dalam kondisi erupsi seperti saat ini, semakin banyak pelancong yang berkunjung ke Bromo dan mengabadikan momen tersebut dalam bentuk foto. Mereka bilang, ini merupakan hal yang langka sekaligus indah.

Ngomong-ngomong, kenapa dinamakan Penanjakan 1 (Satu)?

Dulu, namanya hanya penanjakan. Hanya saja, semenjak ada spot baru untuk melihat Bromo dari ketinggian, maka ditambahkanlah embel-embel angka di belakangnya. Penanjakan lainnya dinamakan Penanjakan dua, terletak di Kabupaten Probolinggo juga, tak jauh dari Penanjakan Satu. Saat ini, Penanjakan Dua masih jarang dikunjungi wisatawan.

Bukit King Kong

Entahlah, saya bingung kenapa dinamai begitu. Orang Indonesia memang paling senang menamai sesuatu yang unik dan aneh, walau nama tersebut tak ada hubungannya sama benda yang diberi nama.

Negeri di atas awan
Negeri di atas awan

Bukit King Kong merupakan spot kedua yang dituju setelah turun dari Penanjakan Satu. Lokasinya saling berdekatan dan dijadikan alternatif untuk melihat Bromo dari jauh. Namun, tak banyak yang tau kalau sebenarnya Bukit King Kong menawarkan pemandangan yang lebih bagus, dan tentunya pengunjung yang lebih sepi.

Bukit King Kong diklaim dapat menampung seratusan orang lebih.

Bukit Cinta

Turun sedikit ke bawah dari Bukit King Kong, kami menuju bukit lainnya yang tak kalah unik. Bukit Cinta namanya. Khusus yang ini, penamaannya sedikit masuk akal. Diberi nama Bukit Cinta karena dari spot ini, kita bakal melihat dua gunung yang bersentuhan dan membentuk cupid.

Dari Bukit Cinta juga, kita dapat melihat dua gunung lainnya, yaitu Gunung Arjuna dan Gunung Welirang.

Baik menuju Bukit King Kong maupun Bukit Cinta, kita diharuskan berlajan menuju sprot yang dimaksud sejauh kurang lebih 100-200 meter. Khusus untuk Bukit Cinta sendiri, siapkan tenaga lebih ya, tanjakannya lumayan tinggi. 😀

Lautan/Padang Pasir

Setelah berpuas diri melihat Bromo dari kejauhan, inilah saat kami turun untuk mengeksplor lebih jauh di kaldera Bromo.

Karena Bromo bertipe stratovolcano, tentulah banyak pasir yang berhamburan dari kawahnya. Pasir-pasir tersebut membentuk dataran di sekitarnya. Wisatawan dan pemandu yang biasa atau akan ke sana menyebutnya sebagai lautan pasir. Karena dari ujung ke ujung, yang bakal kita lihat hanya berupa hamparan pasir.

Padang Pasir
Padang Pasir

Beberapa orang menyebutnya sebagai Pasir Berbisik. Karena saat angin mulai berhembus kencang, terdengar semacam siulan akibat gesekan angin dengan pasir.

Di beberapa tempat di padang pasir, juga terdapat pohon-pohon yang memberikan suasanya layaknya padang savana di Afrika.

Kawah Bromo

Nah, sejujurnya, dalam perjalanan beberapa waktu lalu, kami tak mendaki kawah Bromo. Walau beberapa orang mengatakan saat ini kawahnya cukup aman. Pemandu kami tak merekomendasikan untuk mendakinya demi keselamatan bersama.

Ada kali kurang lebih satu kilometer jarak yang bakal ditempuh dari parkiran mobil sampai kaki Bromo. Ingat, ini baru kakinya loh. Masih ada ratusan anak tangga yang harus dilewati untuk mencapai puncaknya.

Kawah Bromo
Dari puncak Bromo. Jauh, dan semuannya nampak kecil.

Jika dirasa tak mampu untuk berjalan sejauh itu, ada jasa tranportasi kuda yang ditawarkan di sana. Harganya variatif, tergantung pemilik kuda dan kepiawaian kita dalam menawar harga. Jasa transportasi kuda sendiri tidak berlaku untuk naik anak tangga ke kawah Bromo ya. 😀

Foto kawah berikut diambil tahun 2014 saat pertama kali saya ke Bromo.

Pura Luhur Poten

Berjalan dari parkiran mobil menuju kawah Bromo, kita bakal mendapati sebuah Pura. Pura ini merupakan tempat ibadah Suku Tengger yang mayoritas beragama Hindu. Jika melihatnya dari jauh, sepintas bangunan ini seperti candi dengan dominasi abu-abu dengan bahan bebatuan.

Pura Luhur Poten
Pura Luhur Poten

Sayangnya, dua kali ke sana, dua kali juga saya mendapati pura dengan pintu tertutup. Wajar saja, karena tempat tersebut bukan tempat sembarang orang. Sudah sepatutnya dihormati dan dijaga karena merupakan tempat ibadah.

Padang Savana

Berjalan jauh ke selatan, kita bakal mendapati Padang Savana. Lokasinya sendiri sudah hampir memasuki administratif Kota Malang.

Diapit oleh dua gunung dan ditumbuhi oleh berbagai macam rumput dan ilalang.

Padang Savana
Padang Savana

Selain di parkiran mobil menuju kawah Bromo, di Padang Savana juga terdapat beberapa pemilik kuda yang menawarkan jasanya. Berbeda dengan jasa sebelumnya yang berfunsgi sebagai alat transportasi dari parkiran menuju kawah (atau sebaliknya), di padang Savana, kuda hanya digunakan sebagai properti.

Sistem pembayarannya pun dihitung berdasarkan menit. Mau berapa menit kalian menggunakan kuda tersebut? Tentunya, jumlah biaya yang dikeluarkan bisa berbeda tiap orangnya. Bisa jadi, jumlah menitnya sama, tapi harganya berbeda. Intinya, pintar-pintarnya kita menawar saja.

***

Jam sudah menujukkan pukul 09.00, matahari sudah semakin tinggi, dan kabut mulai turun. Itulah saatnya kami harus pulang. Jalur yang dilewati kali ini berbeda dengan keberangkatan.

Kami melewati jalur selatan yang notabene lebih dekat. Dari jalur ini, kita akan melewati sebuah desa tertinggi nomor dua di Indonesia setelah Dieng. Namanya adalah Desa Ngadas. Desa-desa tertinggi tersebut berdekatan dengan Ranupani, basecamp para pendaki Gunung Semeru.

Lewat jalur ini juga, kita bakal melewati sebuah ari terjun yang cukup terkenal di Malang. Air terjun yang memancarkan pelangi setelah terpercik cahaya matahari beberapa saat hujan reda, Coban Pelangi.

Kami kembali dengan senyum puas. 🙂

4 thoughts on “Bromo dan Pesonanya yang Tak (Akan) Pernah Habis

Tinggalkan Komentar