Batik Gumelem

Melihat Langsung Proses Pembuatan Batik Desa Gumelem, Banjarnegara

Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 lebih. Sesuai jadwal, waktu tersebut merupakan jam berakhirnya pelajaran di hari Sabtu. Namun, beberapa siswa SMP Negeri 2 Susukan, Gumelem, yang berseragam Pramuka masih saja bertahan di dalam kelas. Beberapa sibuk mondar-mandir di luar kelas menyiapkan bahan dan alat untuk kegiatan. Barang-barang ditaruh sembarangan, sekenanya.

Nampak kacau! Namun, dari kekacauan tersebut, sepertinya mereka sedang membuat hal yang besar.

Ternyata, bukan pelajaran formal yang sedang para siswa ikuti. Mereka disibukkan dalam kegiatan membuat batik dalam rangka lomba batik dengan tema ciri khas Banjarnegara.

Rasa penasaran mulai muncul dari diri, ingin tau lebih banyak dalam proses pembuatan batik. Dikarenakan suasana kacau tadi, saya sempat kebingungan harus memulai dari mana.

Beruntung, salah seorang guru yang juga merangkap sebagai pembimbing dalam kegiatan membatik mengarahkan saya untuk memasuki ruang kelas terlebih dahulu. Dalam kelas, meja dan kursi disusun melingkar merapati dinding. Setiap meja dan kursi ditempati oleh seorang siswa yang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Rangkaian proses pembuatan batik didistribusikan dari satu meja ke meja lainnya berbalik dari arah jarum jam.

Memasuki pintu kelas, pandangan saya langsung tertuju pada seorang siswa dengan posisi duduk membungkuk, menggenggam erat sebuah spidol, sesekali menahan kertas agar tak bergeser.  Rupanya, dia sedang membuat pola pada sebuah kertas. Ingin rasanya bertanya hal sederhana, namun raut mukanya yang nampak serius menunjukkan kalau dia sedang berkonsentrasi dan tidak ingin diganggu. Ya, mengajaknya bicara berarti menggangu konsentrasinya.

Beberapa pola dengan tema yang sama nampaknya sudah diselesaikan oleh siswa tersebut, dengan harapan mendapatkan desain paling baik di antara rancangan yang telah dibuat. Dipindahkannya dari meja ke meja sebelahnya untuk diberi penilaian singkat dan perubahan pola seperlunya.

Batik Gumelem
Membuat pola batik pada kertas, desain yang dibuat adalah “Dawet Banjarnegera”

Berpindah dari meja pola ke meja salin. Istilah meja salin sebenarnya saya karang sendiri, karena pada bagian proses ini, pola yang sudah dibentuk pada selembar kertas dipindahkan ke sehelai kain mori dengan cara menyalinnya.

Kain mori adalah kain tenun berwarna putih yang digunakan untuk bahan untuk membuat kain batik. Bahan baku kain mori terbuat dari bahan katun, polyester, rayon dan juga sutra.

Masih dengan cara kerja yang sama, beberapa siswi mulai memindahkan pola pada sebuah kertas yang dibuat sebelumnya ke dalam sebuah kain. Keseriuasannya membuat saya urung bertanya untuk kedua kali. Dilihatnya saya sekilas sebelum memotret apa yang sedang dia kerjakan, kemudian dengan senyum simpul serta tak acuh melanjutkan proses penyalinan pola.

Bagi pembatik profesional, alih-alih membuat pola di kertas, mereka biasanya langsung menggambar pola pada kain mori. Tentu saja pembuatan pola pada sebuah kertas dibutuhkan, untuk mengenalkan purwarupa desain baru misalnya.

Dari dalam ruangan, saya beranjak ke luar. Aktivitas di luar nampaknya lebih ramai dibanding di dalam kelas. Keriuahan siswa lebih nyaring dibandingkan sebelumnya. Jika di dalam kelas proses kerjanya lebih terkesan individulis, di luar lebih banyak yang bekerja sama-sama. Satu bahan bisa digunakan oleh beberapa siswa atau siswi sekaligus. Wajar saja, proses di luar kelas ini bisa dibilang bagian inti dari sebuah pembatikan, yaitu melukis kain mori dengan malam, mewarnai kain, pengeringan, sampai dengan pelepasan malam yang sudah kering dari kain.

Beberapa siswa yang didominasi perempuan duduk melingkari kompor menyala. Di tungkunya terdapat sebuah wajan kecil dengan bahan lilin batik atau malam yang harus dihaja kehangatannya. Malam yang panas ini diciduk menggunakan sebuah alat serupa pipa bernama canting. Dengan alat canting yang berisi malam tersebutlah pembatik melukiskan batik pada kain yang sudah diberi pola.

Melukis batik butuh keuletan dan ketelatenan yang tinggi. Prosesnya tidak semudah membuat pola yang gampang dihapus, salah sedikit saja bisa berakibat fatal. Selain kesalahan, pembatik juga rawan akan hal-hal kecil yang dapat mendistraksi jalannya proses, seperti panasnya kompor atau bisa juga malam yang tiba-tiba tersendat dari canting.

Dari sini, saya mulai memahami kenapa pembatik lebih dominan perempuan dibanding laki-laki dengan sifat terburu-burunya.

Batik Gumelem
Melukis batik pada kain

Dalam proses melukis batik, juga ada istilah menutupi bagian putih menggunakan malam. Bagain putih yang ditutupi ini merupakan bagian yang tidak diberi warna pada proses pewarnaan.

Alat yang digunakan pada proses menutupi bagian putih adalah sama, yaitu canting. Walau alatnya sama, tapi ukuran penampangnya bisa berbeda. Beberapa pembatik juga bisa menggunakan canting kuas.

Beberapa siswi yang sedari tadi sibuk melukis pada kain, mulai menyeka keringat dan menghembuskan nafas panjang, tanda tugas yang dia kerjakan sudah selesai. Dengan rasa puas, diserahkannya kain tersebut kepada siswa lain untuk proses pewarnaan. Kain yang telah diwarnai kemudian dikeringkan dengan cara diangini tanpa kena sinar matahari secara langsung.

Proses melukis batik pada kain, pemberian warna kain, serta pengeringan dapat dilakukan berulang-ulang tergantung jumlah warna yang diinginkan pada batik. Beberapa pembatik melakukan hal tersebut secara berulang bertujuan untuk mempertahankan warna pada pewarnaan pertama dan pewarnaan selanjutnya.

Batik Gumelem
Malam yang masing menempel pada kain

Ketika kain sudah kering, bukan berarti kain batik sudah siap digunakan. Lilin batik atau malam masih menempel pada kain. Sisa-sisa ini harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum digunakan.

Untuk malam yang masih menempel, kain harus direbus pada air mendidih yang dicampur dengan abu soda dan tepung terigu. Setiap satu liter air, menggunakan 1.5 gram abu soda dan satu sampai dua sendok tepung terigu.

Langkah terakhir, nampaknya sepele tapi penting, yaitu mencucui kain sampai bersih dari sisa-sisa malam ataupun kotoran.

Batik Gumelem
Kain direbus untuk menghilangkan sisa malam; Nglorot

Tidak peduli batik yang dibuat oleh siswa SMP untuk tugas sekolah atau lomba, atau batik yang dibuat oleh industri rumah tangga, proses pembuatannya serupa. Yang membedakan di antaranya adalah kerapian hasil batik, jenis kain, desain, dan warna. Perbedaan ini juga berpengaruh besar pada harga nantinya.

Batik Gumelem
Batik Gumelem

Dan, sebagai informasi tambahan jika merujuk kata batik, maka sudah barang tentu proses pembuatannya dilukis oleh tangan manusia pada sehelai kain. Jika prosesnya otomatis dengan mesin, atau dengan stempel desain, bisa dibilang merupakan serupa batik.

Desa Gumelem, seringkali menyematkan “Batik Tulis” pada produk mereka sebagai penekanan, walau sebenarnya hal tersebut dirasa tidak perlu. 🙂

Yugo Dedy Purwanto

<p>Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.</p>

3 Comments

  1. Proses pembuatan batik yg rumit, butuh sabar dan waktu yg lama.. Tp kdg sedih kl ada yg beranggapan batik tulis itu terlalu mahal apalagi kalau dibandingkan dengan batik cap.. Hmmm

  2. Batiknya unch banget eh.

    1. Harganya juga murah, cuma 350K. Kalo di luaran udah sampai jutaan loh.

Tinggalkan Komentar